Perkembangan teknologi di dunia medis dan estetika kini semakin berfokus pada pendekatan non-invasif yang minim rasa sakit namun tetap efektif. Salah satu inovasi yang kian dilirik adalah terapi Photobiomodulation (PBM) atau terapi cahaya intensitas rendah. Berbeda dengan perawatan laser konvensional yang kerap bekerja dengan memicu kerusakan pada lapisan permukaan kulit (epidermis) terlebih dahulu untuk merangsang regenerasi, PBM bekerja melalui prinsip cellular activation. Teknologi ini mampu memberikan stimulus biologis secara langsung tanpa merusak jaringan kulit sekitarnya.

Efikasi dari terapi cahaya ini diuraikan oleh dokter spesialis kulit dan anggota Celluma Indonesia Advisory Board, dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E. Ia menjelaskan bahwa sinar merah (red light) masuk hingga ke tingkat seluler dan menargetkan organel mitokondria untuk meningkatkan Adenosine Triphosphate (ATP), yang merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh. Proses biologis ini memicu sintesis kolagen, menekan reaksi peradangan, serta mempercepat regenerasi jaringan. Melalui mekanisme ini, PBM mentransformasi terapi estetika dari sekadar tren musiman menjadi tindakan medis yang didukung oleh bukti ilmiah mendasar.

Penggunaan spektrum panjang gelombang yang bervariasi juga menjadi kunci utama efektivitas terapi fotobiomodulasi. Gelombang cahaya yang digunakan meliputi blue light, red light, hingga near-infrared. Setiap spektrum memiliki tingkat penetrasi jaringan yang berbeda-beda; blue light bekerja di permukaan kulit untuk mengatasi masalah seperti jerawat, sedangkan near-infrared berpenetrasi paling dalam hingga ke jaringan bawah kulit. Variasi ini memungkinkan praktisi medis menyesuaikan terapi berdasarkan kondisi dan kebutuhan spesifik masing-masing pasien.

Foto AI

Aspek keamanan dan kenyamanan pasien turut disampaikan oleh Direktur Medis Senopati Skin Center, dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E. Dalam pemaparannya pada gelaran ARUNA International Summit 2026 di Raffles Hotel Jakarta, Jumat (4/9/2026), ia menekankan bahwa PBM menggunakan energi rendah sehingga sangat aman, tanpa rasa sakit, dan tidak membutuhkan anestesi. Selain berdiri sendiri untuk perawatan anti-aging dan kerontokan rambut, PBM juga efektif dikombinasikan pascatindakan laser invasif untuk mempercepat pemulihan bekas luka secara signifikan.

Meski prosedur ini tergolong aman dan minim efek samping, pengawasan medis tetap memegang peranan krusial. Dr. Akbar mengingatkan bahwa penggunaan perangkat medis fotobiomodulasi harus tetap berada di bawah petunjuk dan supervisi dokter. Pengawasan ini penting untuk mengevaluasi kontraindikasi serta menghindari risiko pada kondisi medis tertentu, seperti pada ibu hamil, penderita epilepsi, maupun potensi paparan sinar langsung ke area mata pasien.

Kehadiran teknologi fotobiomodulasi berstandar US FDA Clearance yang dibawa oleh PT Redo Marketing Indonesia menjadi jembatan antara riset ilmiah dan praktik dermatologi harian di tanah air. Dengan pemahaman mekanisme seluler yang tepat, terapi cahaya hadir sebagai solusi medis yang rasional dan aman. Pendekatan ini memastikan masyarakat Indonesia mendapatkan perawatan kulit yang terukur, berlandaskan bukti akademis, serta berfokus pada kesehatan sel jangka panjang.

Foto-foto @adeoyot

Share: