Prosedur fractional Er:YAG laser kini makin populer sebagai metode peremajaan kulit dan perbaikan tekstur. Prosedur ini bekerja dengan cara membentuk saluran mikroskopis terkontrol pada lapisan kulit guna memicu perbaikan jaringan alami.
Meski efektif, efek samping seperti reaksi inflamasi sementara, termasuk kemerahan (eritema), rasa perih, dan peningkatan sensitivitas, menjadi fase pemulihan (downtime) yang sering dialami pasien pascatindakan.
Untuk mengatasi kendala pemulihan tersebut, uji klinis terbaru membedah potensi penggunaan pelembap berbasis microbiome dalam mempercepat proses penyembuhan jaringan kulit pascalaser.
Pemeriksaan Klinis: Kemerahan Berkurang 90% dalam Seminggu
Temuan penelitian ini dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXI PERDOSKI 2026 di Yogyakarta. Penelitian yang dipimpin oleh dr. Arini Widodo, SM, Sp. DVE., FINSDV, bersama Dermalogia, mengevaluasi efektivitas penggunaan produk LABORÉ BiomeRepair™ TopiCalm Cream setelah tindakan fractional Er:YAG laser.
Metode evaluasi dilakukan secara split-face study, di mana peserta mengoleskan pelembap uji pada satu sisi wajah dan plasebo pada sisi lainnya. Penilaian kondisi fisik kulit dilakukan oleh tim peneliti yang tidak mengetahui distribusi perlakuan (blind evaluation).
Berdasarkan data observasi klinis, diperoleh hasil:
Hari ke-7: Sisi wajah yang diberi pelembap berbasis microbiome mengalami penurunan kemerahan (eritema) hingga 90%.
Hari ke-14: Sebanyak 85% peserta mencatatkan perbaikan klinis signifikan pada struktur dan fungsi permukaan kulit.
Peran Mikrobioma dan Ketahanan Skin Barrier

Kerusakan mikroskopis yang ditimbulkan oleh prosedur laser secara otomatis mengganggu fungsi pertahanan alami atau skin barrier. Tanpa perlindungan dan hidrasi yang memadai, kondisi ini rentan memicu iritasi berkepanjangan hingga risiko timbulnya hiperpigmentasi.
Menurut dr. Arini Widodo, integrasi teknologi 3X-SYNBIOTICS dalam perawatan pascatindakan bertujuan untuk mendukung proses biologis alami pemulihan kulit.
“Penggunaan 3X-SYNBIOTICS sebagai bagian dari perawatan pascatindakan dapat mendukung proses pemulihan kulit, termasuk membantu mengurangi inflamasi dan meningkatkan ketahanan kulit (skin resilience),” ujar dr. Arini dalam pemaparannya.
Secara teknis, formulasi 3X-SYNBIOTICS menggabungkan tiga komponen utama, postbiotic, prebiotic, dan paraprobiotic. Kombinasi ini dikembangkan untuk menjaga kestabilan ekosistem mikrobioma alami yang mendiami permukaan kulit, sehingga respon imun lokal dan perbaikan jaringan dapat berlangsung optimal.
Karakteristik Pelembap Nonsteroid untuk Kulit Sensitif
Selain memulihkan integritas skin barrier akibat prosedur dermatologi, formula pelembap berbasis mikrobioma ini juga dikategorikan sebagai pelembap nonsteroid.
Formulasi yang menggabungkan Encapsulated Microbiome Technology dan Vitamin B12 ini ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan kulit dengan tingkat sensitivitas tinggi, seperti:
- Kulit yang mengalami gangguan fungsi pertahanan alami (skin barrier dysfunction).
- Kulit yang rentan terhadap penyakit inflamasi kronis, seperti eksem (dermatitis atopik) dan psoriasis.
Pendekatan ilmiah berbasis pemanfaatan mikrobioma ini menjadi salah satu fokus yang terus diteliti oleh para ahli dermatologi untuk menghasilkan solusi perawatan kulit pascatindakan medis yang didukung oleh bukti empiris (evidence-based skincare).
Panduan Perawatan Pasca Prosedur Laser

Selain mengaplikasikan pelembap yang direkomendasikan dokter, masa pemulihan pascalaser umumnya memerlukan perhatian pada aspek-aspek berikut:
1. Proteksi Sinar Ultra Violet: Menghindari paparan sinar matahari secara langsung dan mengoleskan tabir surya (sunscreen) formulasi fisik (physical/mineral sunscreen) yang minim iritasi.
2. Pembersihan Kulit secara Lembut: Menggunakan pembersih wajah dengan pH seimbang (pH-balanced) serta bebas kandungan sabun (soap-free).
3. Pemberhentian Bahan Aktif Eksfoliasi: Memerhentikan sementara penggunaan bahan aktif seperti retinoid, AHA, BHA, atau asam L-askorbat (Vitamin C) hingga lapisan kulit pulih sepenuhnya.





