Di era digital yang berkembang pesat saat ini, eksistensi seorang pendidik tidak lagi sekadar terbatas di dalam dinding kelas konvensional. Transformasi teknologi telah membuka peluang yang sangat luas bagi para guru maupun dosen untuk memperluas jangkauan ilmu dan motivasi.

Kehadiran ruang digital memberikan kesempatan emas bagi tenaga pendidik untuk berinteraksi dengan jauh lebih banyak pelajar. Media sosial kini bertransformasi menjadi jembatan yang menghubungkan pendidik dengan generasi muda tanpa terikat oleh batasan ruang dan waktu.

Hal tersebut diungkapkan secara mendalam oleh Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus kreator konten pendidikan, Imam Santoso. Ia memaparkan pandangannya mengenai bagaimana seorang pendidik harus mampu beradaptasi dengan kebiasaan generasi muda masa kini.

Pernyataan penting tersebut disampaikan langsung oleh Imam Santoso di Panggung Inspiring Educator “Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi” dalam rangkaian acara Inspiring Educators 2026 yang digelar oleh ParagonCorp di Jakarta pada hari Sabtu, 26 September 2026.

Menurut Imam, apabila sebagian besar waktu generasi muda dihabiskan di ruang digital, maka sudah sepatutnya para pendidik turut hadir di sana. Kehadiran pendidik di ranah maya bukan bertujuan untuk menggantikan fungsi ruang kelas fisik, melainkan memperluas area pembelajaran.

Kendati teknologi menawarkan kemudahan distribusi informasi yang masif, Imam menegaskan bahwa perangkat digital tetaplah sebatas alat bantu. Kehadiran fisik serta empati manusia tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin maupun aplikasi canggih.

Peran esensial seorang guru atau dosen tetaplah sangat dibutuhkan dalam memberikan konteks pemahaman, menanamkan nilai-nilai karakter, serta membimbing siswa agar mampu menggunakan pengetahuan secara bijak dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, sentuhan emosional dan keyakinan dari seorang pendidik sering kali menjadi titik balik bagi peserta didik yang sedang berada di ambang putus asa. Terkadang, mahasiswa tidak membutuhkan pujian atas kehebatan mereka, melainkan seseorang yang menaruh kepercayaan tulus pada kemampuan mereka.

Kisah nyata mengenai arti sebuah kepercayaan ini tercermin dari pengalaman Imam saat mendampingi mahasiswanya sendiri, yakni Bagus, yang sempat terancam gagal lulus karena keterbatasan waktu di masa pandemi Covid-19. Berkat tumpangan tempat tinggal serta dukungan penuh dari sang dosen, Bagus berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik.

Peristiwa tersebut membuktikan bahwa kalimat sederhana seperti “biarkan Mas Imam yang percaya padamu” memiliki kekuatan psikologis yang luar biasa besar untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri mahasiswa yang hampir menyerah pada studinya.

Selain membahas hubungan personal antara pendidik dan murid, Imam juga menyoroti pentingnya dukungan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Kemajuan kualitas pengajaran di tanah air tidak bisa dibebankan secara sepihak kepada guru atau dosen semata.

Dibutuhkan kolaborasi yang erat serta dukungan nyata dari berbagai elemen penting, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, komunitas masyarakat, hingga sektor swasta yang peduli terhadap masa depan bangsa.

Dalam kesempatan yang sama, Imam turut mengapresiasi berbagai inisiatif program pendidikan yang digagas oleh ParagonCorp. Program-program tersebut mencakup Wardah Inspiring Teacher untuk para guru, Inspiring Lecturer Program bagi para dosen, serta Paragon Scholarship Program untuk mahasiswa.

Perhatian dan dedikasi yang diberikan oleh sektor swasta seperti ini dinilai sangat membantu meringankan beban para pelajar, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan finansial dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi.

Melalui sinergi yang kuat antara teknologi, sentuhan empati kemanusiaan, serta ekosistem pendukung yang solid, masa depan dunia pendidikan Indonesia diyakini akan semakin maju dan mampu melahirkan generasi penerus yang tangguh.

Share: