Usai sukses memukau panggung runway sebagai pertunjukan penutup pada perhelatan JF3 Fashion Festival 2026, Lakon Indonesia (LAKON) menyelenggarakan sesi Re-See untuk koleksi terbarunya bertajuk HARSA di Teras Lakon, Summarecon Serpong, pada Selasa (4/8).

Sesi presentasi intim di butik ini memberikan kesempatan bagi para pencinta mode untuk mengamati dari dekat busana-busana yang sebelumnya diperagakan dalam peragaan megah tersebut. Di sini, pengunjung dapat membedah secara langsung detail kerumitan, eksplorasi material, serta teknik pengerjaan craftsmanship di balik 36 tampilan koleksi yang dihadirkan.

Melalui koleksi HARSA, sebuah kata dari bahasa Sanskerta yang berarti kebahagiaan Lakon Indonesia memberikan penghormatan mendalam kepada para perajin, pembatik, pembordir, penjahit, dan seluruh tangan terampil yang terlibat. Setiap helai busana menjadi representasi dari dedikasi, keterampilan, serta kecintaan terhadap karya tangan Indonesia yang terus dikembangkan melalui bahasa desain yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Koleksi HARSA berada di bawah arahan Creative Director Irsan, menandai koleksi kesembilannya bersama Lakon Indonesia. Sebagai salah satu desainer senior Indonesia dengan pengalaman panjang di industri fashion, Irsan menghadirkan perspektif yang matang dalam membangun keseimbangan antara kreativitas, fungsi, dan kualitas eksekusi. Pengalamannya menjadi fondasi penting dalam memperkuat karakter Lakon Indonesia, membentuk bahasa desain yang terus berkembang tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Memasuki musim kesembilan, kolaborasi Lakon Indonesia dan Irsan menegaskan konsistensi dalam membangun identitas brand. Lewat HARSA, Irsan membawa Lakon memasuki babak baru, beralih dari pendekatan streetwear pada koleksi “Urub” sebelumnya menuju siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan dalam ranah daily wear hingga daily wear deluxe.

Harmoni Batik Pesisiran dan Sentuhan Bordir In-House

Kekayaan batik Cirebon dan Pekalongan bermotif pesisiran serta ragam hias klasik menjadi nyawa koleksi ini yang diterjemahkan secara modern. Di tangan Lakon, motif dan tehnik tradisional tersebut diperkaya lewat pengerjaan finishing in-house, menghadirkan bordir halus dan aplikasi bunga 3D yang dipotong serta dirangkai presisi untuk menciptakan tekstur busana yang dinamis dan bervolume.

“Jadi, saat peragaan kemarin itu adalah bagian dari koleksi yang lebih besar. Jika dilihat di sini, teknik pengerjaannya benar-benar sudah melangkah lebih jauh daripada apa yang biasa kami lakukan di Lakon. Ini adalah bentuk visi dan hasil eksperimen mendalam kami,” tutur Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, Co-Initiator PINTU Incubator, sekaligus Advisor to JF3 Fashion Festival, di Teras LAKON.

Eksplorasi Tekstil Tanpa Batas: Batik Organza hingga Aplikasi Bunga 3D

Eksplorasi material lantas menjadi panggung utama yang mendobrak batas-batasan visual batik konvensional. Terobosan yang paling mencuri perhatian adalah keberanian menorehkan motif batik di atas kain organza. Sifat organza yang ringan namun terstruktur dihadirkan dalam jajaran setelan jas, outerwear, hingga celana panjang longgar secara bertumpuk (layering).

Lalu ada juga eksperimen teknik in-house Lakon kian memikat lewat aplikasi bordir bunga 3D (applique). Hal ini tampak dramatis pada gaun baby blue berkerah pleated, di mana kelopak-kelopak bunga kain dirangkai secara presisi hingga membentuk buket bunga bervolume penuh di bagian bawah rok. Selain itu, teknik bordir bunga bertumpuk juga hadir pada mini dress warna peach yang dibentuk dari jalinan renda floral berlapis.

Eksperimen tekstil tersebut kemudian berdialog harmonis dengan pilihan bahan lainnya. Untuk menjaga kenyamanan sekaligus memberikan struktur yang tegas, terlihat katun poplin bertekstur rapat yang hadir dengan kelembutan katun voile yang sejuk. Sementara itu, sentuhan satin duchess melengkapi koleksi dengan kilau lembut (subtle luxury) dan jatuh kain yang anggun pada potongan busana terstruktur.

Kemewahan yang lebih dramatis hadir lewat permainan bahan Jacquard metalik berwarna champagne yang dipadukan secara kontras dengan motif floral jingga. Siluetnya dibuat bervolume dengan lengan puff dan detail ruffle bertumpuk di bagian dada. Di sisi lain, kejutan hadir lewat tabrakan gaya yang eklektik: blus tanpa lengan berbahan katun motif garis-garis berhias aplikasi bordir bunga mawar merah, dipadu secara kasual dengan sampiran jaket berbahan satin duchess tebal berwarna merah menyala, serta bawahan celana denim bertekstur distressed yang ditaburi kilau payet.

Kemewahan Subtil yang Fungsional dan Sentuhan Aksesori 3D

Seluruh eksplorasi teknik dan material ini akhirnya merangkum 36 tampilan koleksi yang terasa begitu ringan, elegan, namun sangat kontemporer. Lakon berhasil membuktikan bahwa kemewahan tertinggi justru terletak pada bagaimana sebuah karya couture tetap fungsional dan adaptif untuk gaya hidup sehari-hari.

Sentuhan eksepsional pada koleksi ini tercermin dari eksplorasi aksesoris berupa korsase bunga 3D yang ditempatkan secara strategis di bagian belakang leher untuk mengikat sekaligus menguncangkan helaian penutup kepala. Tak sekadar berfungsi utilitarian sebagai pengikat scarf atau hood transparan, korsase ini dirancang penuh kepiawaian dari tumpukan kelopak kain tulle yang ringan hingga material jacquard bermotif metalik berkilau lengkap dengan detail benang putik di pusatnya.

Posisinya yang bertengger manis di tengkuk memberikan kejutan visual dari tampak belakang, menyerupai keanggunan sanggul modern yang mekar megah, sekaligus mempertegas komitmen Lakon Indonesia dalam mengawinkan fungsi kepraktisan busana dengan nilai seni craftsmanship yang tinggi.

Lewat koleksi HARSA, Lakon Indonesia sekali lagi menegaskan posisinya di peta mode tanah air: bahwa merawat wastra Nusantara bukan berarti mengurungnya dalam kaca museum, melainkan memberinya kebebasan untuk bernapas, bereksperimen, dan menari bersama zaman.

Foto-foto: Wuri dan koleksi LAKON

Share: