Di tengah gemerlap panggung mode ibu kota, ajang Jakarta Fashion Food Festival (JF3) 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading menegaskan posisinya lebih dari sekadar panggung peragaan busana tahunan. Memasuki usianya yang ke-22 dengan tema “Recrafted: Shaping the Future”, festival ini bertransformasi menjadi jembatan diplomasi budaya yang menghubungkan kreativitas desainer Indonesia dengan rumah mode asal Prancis. Sorotan utama festival ini tertuju pada sesi Re-See bertajuk “Les Échos: Craft Across Cultures”, sebuah ruang eksklusif yang mempertemukan kurasi karya kolaboratif secara intim. Berbeda dari atmosfer runway yang serba cepat, sesi re-see memberi kesempatan bagi para penikmat dan profesional mode untuk mengobservasi teknik tailoring presisi khas Prancis hingga detail craftsmanship wastra pesisir Jawa dari jarak dekat.

 Dialog Maritim: Ketika Laut Jawa Bertemu Prancis

Di balik megahnya peragaan busana tersebut, keberhasilan karya seni yang ditampilkan bermula dari percakapan panjang, silang pendapat yang hangat, hingga keterbukaan untuk meruntuhkan ego demi satu visi bersama. Melalui program PINTU Residency, sebuah inisiatif di bawah naungan ekosistem PINTU Incubator yang bekerja sama dengan lembaga internasional seperti École Duperré Paris, terjalin kolaborasi erat antara para perancang muda Nusantara dan desainer Prancis.

Salah satu sorotan utama lahir melalui koleksi bertajuk Au Large, karya kolaboratif desainer Prancis Lisa Rayar dan perancang muda asal Semarang, Gabriel Marcella Budiono. Perjalanan mereka dimulai dari diskusi virtual jarak jauh sejak akhir Maret 2026. Gabriel mengenang awal mula pengerjaan tersebut, “Kami berdiskusi saat Lisa masih berada di Prancis dan saya di Semarang. Kami mulai dengan mencari inspirasi dan membahas bagaimana proses pengerjaannya.”

Dari dialog itu, mereka menyepakati tema maritim Au Large (lepas pantai) yang mempertemukan ketegasan busana angkatan laut Prancis (French Maritime Navy) dengan kehangatan tradisi Sedekah Laut masyarakat pesisir Jawa Utara.

Selama masa residensi empat bulan, keduanya saling berkompromi menyelaraskan estetika. Gabriel yang menyukai warna-warna tenang (muted) bernegosiasi dengan Lisa yang menggemari warna cerah. “Kami benar-benar membicarakan preferensi masing-masing. Setelah diskusi panjang, saling mendengar dan bertukar perspektif, kami bisa berkompromi,” tutur Gabriel. Hasilnya adalah 12 set busana berpotongan lebar (oversized) berpadu teknik drapery yang mengalir. Karakter maritim diperkuat lewat detail tali-temali mirip layar kapal, serta tas berukuran besar yang digagas Lisa untuk panggung runway.

 Eksplorasi Wastra dan Pertukaran Keahlian

Koleksi Au Large mengeksplorasi Batik Mojokerto berhias warna hijau dan putih yang terilhami dari sesajen ritual Sedekah Laut. Gabriel menjelaskan, “Batik yang kami ciptakan spesial, ada hijau dan warna putih. Di Sedekah Laut itu kan ada berbagai macam sesajen, inspirasi motif batiknya dari situ.”

Pola kotak-kotak khas sarung lokal disandingkan dengan motif garis (stripes) maritim Prancis di atas bahan denim dan katun. Seluruh batik diproses manual bersama perajin lokal, sementara sisa kain diolah kembali menjadi gantungan kunci fungsional.

Kolaborasi ini menjadi ajang pertukaran ilmu yang kaya. Lisa Rayar, lulusan LISAA Fashion Paris dengan pengalaman kerja di Chanel dan Jean Paul Gaultier, membawa keahlian busana struktural ramah lingkungan. Lisa menceritakan kesan kerjanya, “Cara kami menciptakan mode berbeda. Menurut saya, bekerja sama adalah hal yang sangat baik karena kami memiliki kecintaan terhadap pendekatan mode yang serupa.” Sebaliknya, Gabriel menyerap teknik tailoring presisi Eropa. “Lisa itu pekerja keras dan tekun. Saya belajar banyak, mulai dari metode konstruksi busana hingga preferensi konsumen dan estetika kontemporer,” ujar Gabriel.

 Semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam Koleksi Garuda

Kehangatan sinergi lintas budaya juga terpancar dari kolaborasi desainer Prancis Mickael Nana dan Beatrice Angelica. Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, keduanya berkunjung langsung ke Lombok untuk merancang tiga kain tenun eksklusif bersama perajin perempuan. Beatrice (22) menuturkan, “Kami mulai dari awal. Bertemu perajin di Lombok untuk membuat tenun yang kami mau untuk menciptakan koleksi Garuda.”

Hasilnya adalah 10 busana ready-to-wear bertajuk Garuda yang memadukan tenun Lombok dengan denim, velvet, dan kain teknis. Koleksi Garuda menampilkan potongan asimetris yang tegas. Penggunaan kain beludru yang dipotong dan dijahit di atas kain tenun membentuk pola abstrak yang merepresentasikan gugusan pulau Indonesia. Mickael Nana, penerima penghargaan LVMH Prize 2024 yang berpengalaman di studio Dior Homme, mengungkapkan filosofinya, “Sebuah koleksi itu benar-benar seperti sebuah cerita yang kita jalani, dan setiap adegannya tak harus terlihat sama. Banyak jenis kain, banyak budaya, banyak bahasa.”

Sentuhan warna neon terang turut diselipkan. Beatrice menambahkan, “Perlengkapan outdoor sering memakai jaket berwarna terang supaya orang lebih mudah terlihat kalau misalnya tersesat.”

 Jejaring Kreatif PINTU Incubator

Keberagaman estetika dalam ekosistem PINTU Incubator di JF3 2026 semakin diperkaya oleh kehadiran talenta perancang Prancis lainnya. Fengyuan Dai melalui labelnya 30%70 membawa sudut pandang haute couture yang cermat untuk merekonstruksi kain tradisional Nusantara menjadi karya bernilai seni tinggi. Sementara itu, Etienne lewat label TAREET memilih bergandengan tangan dengan jenama lokal DENIMITUP, mempertemukan energi streetwear kontemporer dengan kekayaan tekstil lokal. Tak ketinggalan, Louise Marcaud turut ambil bagian dengan memusatkan perhatiannya pada eksplorasi keindahan tenun lurik.

Bagi Louise, kesempatan mengamati dan mengolah material lokal secara langsung memberikan kesan mendalam. Ia mengungkapkan kekagumannya saat menyaksikan setiap detail kain dari jarak dekat:

 “Menatap kain lurik dan batik dari jarak dekat dalam sesi re-see memberi pengalaman yang luar biasa. Sangat mengagumkan melihat bagaimana garis-garis sederhana lurik dapat diolah menjadi struktur busana yang sangat modern tanpa kehilangan jiwa dan akar budayanya.”

 Panduan Styling dan Refleksi Slow Fashion

Bagi penikmat gaya hidup urban, kolaborasi ini memberikan referensi styling praktis sehari-hari. Kemeja maritim bergaris ala Prancis dapat dipadukan dengan rok batik untuk gaya kantor, atau blazer terstruktur beraksen lurik dipasangkan dengan denim untuk tampilan kasual yang tajam. Esensi slow fashion dan nilai keberlanjutan yang diusung mengingatkan bahwa pakaian bisa menjadi media berbusana yang bermakna. Laut Jawa dan pesisir Prancis boleh terpisah jauh di peta, namun keduanya dapat bertemu anggun dalam sehelai kain yang menyimpan doa, memori tradisi, dan visi masa depan.

Foto-foto: Ade_oyot, Wuri

Share: