Panggung JF3 Fashion Festival 2026 kembali menjadi saksi bisu bagaimana mode melampaui sekadar fungsi estetika. Pada gelaran yang berlangsung pada Kamis, (23/7), dua label yang berbasis di Paris, mereka adalah Rohan Mirza dan Louise Marcaud, menyuguhkan eksplorasi mendalam tentang identitas, memori, dan hubungan antarmanusia dalam era yang terus berubah.

Rohan Mirza membawa penonton menjelajahi semesta emosional era digital, sementara Louise Marcaud merajut kenangan manis perjalanan pribadinya di Indonesia ke dalam seni tailoring berkelas.

Rohan Mirza: “Stonehaven” S/S 2026

Kelembutan Romansa Vampirik di Antara Hantu-Hantu Digital

Eksplorasi peran emosi di era pesona digital menjadi pijakan utama studio kreatif Rohan Mirza dalam koleksi Musim Semi/Musim Panas 2026 bertajuk Stonehaven. Setelah sukses mengadaptasi peta legendaris Nuketown dari video game Call of Duty pada koleksi sebelumnya, merek muda asal Paris ini melangkah lebih jauh ke dalam wilayah imajiner yang kaya akan simbolisme.

Kali ini, reruntuhan kastil Stonehaven direkonstruksi secara puitis menjadi sebuah taman publik. Taman ini berfungsi sebagai arena ritual dan teater sosial yang merayakan ikatan emosional, baik nyata maupun virtual, yang dibangun oleh setiap individu dalam realitas digital. Bagi Rohan Mirza, ruang publik ini membangkitkan ingatan akan taman bermain masa kecil dan pertemuan tak terduga, di mana bangku taman berdiri sebagai saksi paling setia atas memori yang ditinggalkan.

“Dalam semesta bernuansa vampirik dan puitis ini, senjata tak lagi mematikan; mereka lahir kembali untuk membela cinta, ikatan, dan kelembutan.”

Secara estetika, Stonehaven menari leluasa di antara hantu-hantu digital dan hyperrealism. Zirah taktis yang tegas pada koleksi sebelumnya kini melunak menjadi bentuk-bentuk bulat berbahan cotton fleece yang nyaman, dipadukan dengan eksperimen teknologi cetak 3D yang tampil makin halus. Metafora vampir hadir bukan sebagai lambang kegelapan, melainkan sebagai hasrat mutlak akan kedekatan, sejarah bersama, dan cinta abadi yang melampaui batasan biner dunia maya.

Louise Marcaud: “Louiseguard” S/S 2027

Surat Cinta dari Paris untuk Kenangan Musim Panas di Jakarta

Jika Rohan Mirza menjelajahi alam imajiner digital, desainer Prancis Louise Marcaud justru membawa romansa yang sangat personal dan membumi lewat koleksi Louiseguard (Spring/Summer 2027). Koleksi ini lahir dari memorabilia dan jejak rasa yang ia kumpulkan selama kunjungannya ke Indonesia pada JF3 2025 lalu.

Pengalaman menjelajahi pasar tekstil tradisional Jakarta, mengumpulkan kain tenun lurik, batik, hingga mengamati detail visual kemasan sehari-hari seperti kantong teh, kartu pos vintage, dan suvenir hotel, menjadi bahan bakar kreatifnya. Kekayaan kostum serta atmosfer teatrikal dari pertunjukan Sendratari Ramayana yang ia saksikan turut membentuk siluet dan elemen ornamen pada koleksinya.

Peleburan Narasi Unik: Referensi khas Indonesia tersebut dipadukan dengan estetika seragam penjaga pantai (lifeguard) dan suasana kolam renang umum. Koleksi ini membayangkan kisah musim panas fiktif antara seorang wisatawan dan penjaga kolam muda di Jakarta.

Dari koleksi yang ditampilkan, kita melihat sentuhan tailoring dan sustainable fashion. Hasilnya adalah paduan tailoring bergaris khas kursi santai tepi kolam, rajutan fit bergaya vintage, bikini, celana bermuda, celana capri, hingga gaun ringan melayang.

Alumna rumah mode ternama seperti Chanel dan Jean Paul Gaultier ini memproduksi seluruh koleksinya dalam jumlah terbatas (limited run) di Paris, memanfaatkan kain deadstock/dormant dan kain tradisional Indonesia sebagai bentuk komitmen pada mode yang lebih bertanggung jawab (sustainable fashion).

Melalui eksperimen teknologi 3D, subkultur internet, hingga penghormatan terhadap kerajinan lokal Indonesia dan praktik produksi yang berkelanjutan, kehadiran Rohan Mirza dan Louise Marcaud di JF3 Fashion Festival 2026 menegaskan bahwa mode adalah bahasa universal yang mampu menghubungkan berbagai belahan dunia dan realitas.

Share: