Kolaborasi fashion lintas budaya kembali melahirkan karya yang memukau. Melalui peningkatannya di tahun kedua, program PINTU Residency 2026 sukses mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis untuk menjelajahi kekayaan wastra Nusantara langsung dari akar budayanya.
Dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer, program residensi selama empat bulan (April–Juli 2026) ini mengajak para desainer keluar dari studio mereka. Masing-masing meluncur ke Lombok dan Mojokerto untuk melebur bersama komunitas perajin lokal, melakukan riset material, hingga mengeksplorasi teknik tekstil tradisional.
Hasil dari pertukaran ide dan pertukaran budaya ini siap diperlihatkan untuk pertama kalinya di panggung JF3 Fashion Festival 2026.
Di Lombok, desainer asal Prancis Mickaël Nana berkolaborasi erat dengan desainer muda Indonesia Beatrice Angelica. Mengusung tajuk GARUDA, koleksi ini menggabungkan teknik pemotongan dan struktur tailoring ala Barat dengan keindahan kain tenun serta songket Lombok.
Garuda diangkat sebagai simbol utama yang mewakili kekuatan, kebebasan, dan identitas. Hasilnya adalah deretan busana kontemporer bergaya tegas namun sarat akan nilai tradisi.
Sementara itu di pesisir Jawa, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella menjelajahi kekayaan budaya Mojokerto. Terinspirasi oleh perpaduan tradisi maritim Prancis dan kehidupan pesisir Jawa, mereka melahirkan koleksi bertajuk AU LARGE.
Koleksi ini menghadirkan perpaduan unik antara kain batik, struktur busana yang rapi (tailored), serta referensi busana seragam bahari yang dikemas dalam siluet modern yang fresh.
PINTU Residency membuktikan bahwa kolaborasi mode tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa pakaian. Lebih mendalam, program ini membangun ruang dialog yang setara antara desainer, artisan lokal, teknik tradisional, dan latar belakang budaya yang bertolak belakang.
Lewat peleburan ini, kriya tradisional Indonesia tidak cuma dilestarikan, tapi juga diberi napas baru yang relevan dengan tren mode internasional tanpa kehilangan jati dirinya.





