Di tengah perputaran industri mode modern yang sering kali menuntut kesempurnaan instan, desainer Hendri Budiman dan Hendriyatmi Mugirahayu memilih untuk mengambil arah yang berbeda. Melalui koleksi terbarunya yang bertajuk SADA, sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti abadi, mereka menghadirkan sebuah refleksi mendalam tentang makna keindahan sejati. Koleksi ini mengajak penikmat mode untuk melambat sejenak dan merenungkan esensi waktu di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

Koleksi memukau ini diperagakan dalam ajang IN2MOTION X JMFW yang berlangsung di JICC, Senayan, Jakarta, Kamis (15/10), dan berhasil menyita perhatian para pencinta modest fashion. Di atas panggung tersebut, peragaan busana ini menjadi momentum berharga untuk menampilkan bagaimana filosofi kearifan lokal dan estetika global mampu berpadu harmonis.

Inspirasi utama di balik koleksi SADA berakar dari filosofi estetika tradisional Jepang, yaitu Wabi Sabi. Konsep ini secara mendalam merayakan keindahan yang tersembunyi di balik ketidaksempurnaan, serta bentuk penerimaan yang tulus terhadap siklus alami pertumbuhan, pelapukan, dan kesederhanaan. Lewat koleksi ini, kedua desainer ingin memperlihatkan bagaimana sebuah karya dapat bernapas dan bercerita tentang perjalanan waktu.

Kedelapan rancangan yang ditampilkan ingin menyampaikan pesan kuat bahwa keabadian sejati bukanlah sesuatu yang kaku atau tanpa cela. Sebaliknya, keabadian justru ditemukan ketika kita belajar menerima proses perjalanan waktu dan berbagai jejak ketidaksempurnaan sebagai sebuah keindahan yang autentik. “Keabadian sejati bukanlah tentang hasil yang sempurna tanpa cela, melainkan tentang keberanian kita untuk merayakan setiap proses dan jejak waktu yang jujur,” ungkap sang desainer mengenai filosofi di balik karyanya.

Untuk menerjemahkan filosofi yang kaya ini, koleksi SADA menggunakan material serat alami yang ramah lingkungan seperti katun dan linen yang nyaman. Penggunaan bahan-bahan natural ini tidak hanya memberikan kesan membumi, tetapi juga memperkuat karakter organik yang selaras dengan tema besar yang diusung oleh sang desainer.

Sebagai benang merah visual, koleksi ini konsisten menghadirkan motif polkadot yang sarat akan makna filosofis mendalam. Bentuk lingkaran atau polkadot dipandang sebagai simbol universal dari lingkaran kehidupan, waktu, dan alam semesta yang terus berputar tanpa awal maupun akhir, merepresentasikan sebuah bentuk keabadian yang hakiki.

Keunikan dari motif polkadot ini terletak pada proses pembuatannya yang menggunakan teknik batik tulis tradisional secara handmade. Setiap bulatan yang tidak presisi, garis yang sedikit retak, hingga gradasi warna yang tidak merata sengaja dibiarkan apa adanya untuk menonjolkan sentuhan tangan manusia yang hangat dan penuh dedikasi.

Ketidaksempurnaan bentuk lingkaran tersebut berfungsi sebagai pengingat visual bahwa keindahan sejati selalu terletak pada keunikan personal serta proses alami yang tidak dipaksakan. Dipadukan dengan siluet H dan A yang memikat, teknik patchwork, aksen sashiko, serta pemilihan warna earthy seperti hitam, biru dongker, coklat muda, dan broken white, SADA menjelma menjadi sebuah karya mode yang merayakan ketulusan, identitas, dan keabadian.

Share: