Panggung JF3 2026 di Fashion Tent Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading (23/7), menghadirkan harmoni mode lintas benua melalui koleksi “Fas Delman” dan estetika “30%70”. Mengusung tema “Re-crafted: Shaping the Future”, gelaran ini mempertemukan narasi denim Indonesia, simbol budaya Senegal, hingga visi genderless asal Paris sebagai medium dialog antarbenua.
DENIMITUP: “Fas Delman”
Kisah Streetwear Indonesia–Senegal di Atas Denim

Dalam salah satu sesi JF3 2026, koleksi “Fas Delman” dari DENIMITUP tampil sebagai perayaan titik temu dua tradisi dari benua berbeda: Indonesia dan Senegal. Koleksi ini menggali kesamaan di antara kedua budaya untuk melahirkan lemari pakaian hibrida yang memadukan arketipe busana khas Afro–Eropa dan Nusantara, dibangun di atas basis denim yang kuat.
Nama dan inspirasi utama koleksi ini berpusat pada sosok kuda. Dalam bahasa Wolof di Senegal, kuda disebut fas, sementara di Indonesia, delman merepresentasikan kereta kuda tradisional yang akrab dalam memori kota dan desa. Kuda dipilih bukan sekadar sebagai motif, tetapi sebagai simbol historis pergerakan dan kehidupan sehari‑hari di kedua bangsa: kendaraan yang dulu menghubungkan manusia dengan ruang, sebelum moda transportasi modern mengambil alih.
Secara desain, DENIMITUP menghadirkan twist yang menarik dengan mengadaptasi cara busana djellaba menciptakan volume saat tubuh bergerak. Sensasi kain yang mengalir dan jatuh bebas diterjemahkan ke dalam potongan streetwear kontemporer yang nyaman dipakai untuk aktivitas harian. Siluet longgar, dinamis, dan ber‑volume ini membuat “Fas Delman” terasa akrab bagi pecinta streetwear, namun tetap menyimpan jejak visual dari akar budaya yang menjadi inspirasinya.
Di balik tampilan yang kasual dan modern, koleksi ini berdiri di atas proses kriya yang serius. Diproduksi sepenuh hati oleh Seniman Jins di Indonesia, setiap potongannya melalui tahapan visualisasi maket 3D, teknik cetak modern, serta pengerjaan tangan para pengrajin lokal. Kombinasi teknologi dan ketelitian manual ini menghasilkan denim dengan potongan presisi dan warna yang tangguh, siap dipakai, dipadupadankan, dan dibawa ke berbagai konteks gaya tanpa kehilangan karakternya.
30%70:
Visi Genderless dan Puitis dari Paris

Masih dalam rangkaian JF3 2026, label asal Paris 30%70 (Thirty–Seventy) menawarkan eksplorasi lain: busana genderless dengan estetika puitis dan perspektif multikultural. Di panggung yang sama, 30%70 tampil sebagai suara yang lembut namun tegas, menantang batas tradisional tentang gender, geografi, dan waktu.
Didirikan oleh desainer Prancis–Tiongkok Fengyuan DAI, 30%70 lahir dari filosofi bahwa keseimbangan tidak selalu harus simetris. Bagi Fengyuan, justru dalam ketegangan halus antara elemen yang tampak berlawanan, Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, kriya dan inovasi, harmoni baru dapat tercipta. Ini tercermin dalam koleksi yang bergerak bebas di antara referensi budaya, tanpa merasa harus memilih satu identitas tunggal.
Secara desain, 30%70 mengutamakan siluet timeless yang melampaui musim dan tren sesaat. Bahan yang digunakan banyak bertumpu pada material alami dan tekstil daur ulang, diproses dengan teknik kriya artisan dan detail berpresisi tinggi. Palet warna yang lembut, tekstur khas, serta potongan ber‑volume membuat busana 30%70 terasa puitis: mengalir, nyaman, dan memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak tanpa terikat konstruksi kaku. Koleksi yang ditampilkan di JF3 2026 memancarkan kesan tenang, seperti puisi visual yang bisa dikenakan.
Rekam jejak Fengyuan DAI memperkuat karakter label ini. Sebelum mendirikan 30%70 pada 2024, ia mengasah keahlian di rumah mode ternama seperti Jean Paul Gaultier, Sandrine Philippe, Stéphane Ashpool, dan Le 19M, serta menjadi finalis Hyères International Festival. Pengalaman tersebut membuatnya akrab dengan dunia haute couture dan eksperimen tekstil, namun lewat 30%70, ia memilih jalur yang lebih dekat dengan kehidupan sehari‑hari: genderless, berkelanjutan, dan sarat cerita.
Mode Sebagai Dialog di Panggung JF3
Dengan hadirnya DENIMITUP dan 30%70 dalam satu rangkaian JF3 Fashion Festival 2026, terlihat jelas bahwa mode hari ini tidak lagi berhenti pada urusan gaya semata. “Fas Delman” menghubungkan kuda Senegal dan delman Indonesia melalui denim dan streetwear, sementara 30%70 mengikat Timur dan Barat dalam busana genderless yang lembut dan puitis.
Di bawah payung tema “Recrafted: Shaping the Future”, kedua presentasi ini mengajak kita membaca fashion sebagai medium dialog: tentang gerak dan perjalanan, tentang identitas yang lentur, tentang keberanian menjahit ulang tradisi menjadi sesuatu yang relevan bagi generasi sekarang. JF3 2026, melalui titik‑titik kecil seperti ini, menunjukkan bahwa panggung mode bisa menjadi ruang kontemplasi, bukan hanya tempat kita bertanya “apa yang terlihat keren”, tetapi juga “cerita apa yang ingin kita bawa di atas dan di balik pakaian yang kita pakai”.





