Tuberkulosis atau TBC hingga kini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Negara kita saat ini menempati peringkat kedua dunia dengan beban kasus TBC tertinggi, di mana diperkirakan terdapat lebih dari satu juta kasus baru dan puluhan ribu kematian setiap tahunnya.

Tingginya angka penularan ini sebagian besar dipicu oleh minimnya pemahaman masyarakat dalam membedakan gejala batuk biasa dengan infeksi TBC Paru aktif. Masalah mendesak ini dikupas secara mendalam oleh dr. Martha Ratnawati Bumiwana, Sp.P dari RS Telogorejo, Semarang, dalam Seminar Kesehatan Bakti Indonesia 2026 pada Jumat (7/8) di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang.

 Ciri utama yang paling mendasar dari batuk TBC adalah durasinya yang berlangsung relatif lama dan persisten. Jika batuk yang Anda alami terus berlanjut lebih dari dua minggu tanpa menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, hal tersebut patut dicurigai sebagai sinyal awal infeksi.

Batuk akibat kuman TBC biasanya tidak kunjung membaik meskipun pasien telah mengonsumsi obat batuk umum maupun racikan antibiotik biasa. Selain batuk berkepanjangan, infeksi ini umumnya disertai gejala sistemik seperti demam, tubuh mudah lelah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan secara drastis. 

Dalam pemaparannya di seminar tersebut, dr. Martha menjelaskan bahwa penularan TBC utama terjadi melalui udara dari percikan dahak pasien TB Paru aktif. Namun, kuman Mycobacterium tuberculosis memiliki karakteristik unik karena tidak langsung membuat seseorang sakit dalam hitungan hari.

Foto ilustrasi @AI

Kuman ini membutuhkan jeda masa inkubasi sekitar 1,5 hingga 2 bulan sejak pertama kali masuk ke dalam tubuh sebelum berkembang menjadi penyakit aktif. Oleh karena itu, deteksi dini tanpa memberikan stigma negatif kepada penderita menjadi kunci penting dalam memutus rantai penularan. 

Hal menarik yang juga ditekankan oleh dr. Martha adalah bahwa dari seluruh orang yang terpapar kuman TBC, tidak semuanya langsung jatuh sakit. Hanya sekitar 5 persen yang berkembang menjadi sakit TBC aktif, sementara 95 persen sisanya berada dalam kondisi dormant atau tertidur di dalam tubuh selama berpuluh-puluh tahun tanpa menunjukkan gejala.

Kuman dormant ini tertahan oleh sistem kekebalan tubuh, namun dapat aktif sewaktu-waktu apabila daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan drastis.  Tantangan terbesar dalam penanganan TBC di masyarakat terletak pada durasi serta kepatuhan pengobatannya. Penyakit ini dibedakan menjadi TB Paru dan TB Ekstra Paru, seperti TB Kelenjar yang menyebar melalui aliran darah. Pengobatan TB Paru memerlukan waktu minimal 6 bulan dengan evaluasi klinis dan rontgen berkala, sedangkan TB Kelenjar membutuhkan masa pengobatan yang jauh lebih lama, yaitu 9 hingga 12 bulan. 

dr. Martha menegaskan bahwa karena evaluasi fisik pada TB Kelenjar cukup sulit setelah benjolan dioperasi, kunci utama kesembuhan total adalah disiplin pasien. Pasien wajib menyelesaikan seluruh paket pengobatan antibiotik tanpa terputus secara sepihak.

Kepatuhan penuh ini sangat krusial agar kuman TBC mati total dan tidak berkembang menjadi kuman yang kebal obat (drug-resistant), yang jauh lebih sulit dan lama untuk disembuhkan. 

Foto Tim Muara Bagdja

Share: