Tiga talenta muda mewakili institusi mode ternama asal Prancis, École Duperré Paris, sukses mencuri perhatian publik fashion Tanah Air, di panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung di Gafoy, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis (23/7). Acara ini menjadi saksi bisu gebrakan adibusana kontemporer para siswa tersebut. Masing-masing desainer membawakan narasi, narasi visual, serta eksplorasi material yang begitu personal dan mendalam.

 Aurélien Voegelin (Brand: DAURIAC)

 Akar Keluarga dan Rekonsiliasi Warisan Pedesaan

Aurélien Voegelin menghadirkan koleksi bertajuk 3088, sebuah angka yang diambil dari nomor identifikasi telinga Magali, sapi kesayangannya. Koleksi ini berakar erat dari sejarah keluarga Voegelin yang secara turuntemurun mengelola ladang pertanian yang sama selama lebih dari empat abad. Sempat berjuang keras untuk menemukan identitas diri di tengah warisan tersebut, Voegelin akhirnya menjadikan desain mode sebagai media rekonsiliasi untuk kembali terhubung dengan akar kehidupannya.

Koleksi 3088 lahir dari proses penelitian ekstensif yang memadukan arsip foto keluarga, dokumentasi visual pribadi, serta lanskap pedesaan di wilayah Gers, Prancis. Voegelin mengumpulkan bentuk, tekstur, dan objek seharihari langsung dari pertanian keluarganya. Setiap garmen menerjemahkan memori serta observasi masa kecilnya menjadi bahasa busana kontemporer yang merefleksikan otobiografi visual tentang ruang, waktu, dan kerja keras.

Berangkat dari riset selama tiga tahun tentang representasi dunia tani, Voegelin menyadari bahwa dunia pertanian tidak dapat dilihat secara homogen. Alihalih menyajikan pandangan folklorik atau stereotipis, ia memilih untuk bekerja dari pengalaman subjektifnya sendiri. Koleksinya mengeksplorasi hubungan nyata antara tubuh, material, dan jejak waktu tanpa berusaha meromatisasi kehidupan pedesaan secara berlebihan.

Memadukan tailoring presisi dengan kerajinan tangan, koleksi ini menampilkan siluet genderless yang terinspirasi dari tubuh yang bekerja. Teknik seperti cording, braiding, macramé, hingga panel construction dipadukan dengan aksen workwear. Proses kreatifnya dibangun di sekitar tiga arketipe simbolis: the beast (sapi), the stable (kandang), dan the scarecrow (orangorangan sawah) yang ditemukan dari loteng kakekneneknya.

Dalam mewujudkan karyanya, Voegelin sangat memprioritaskan penggunaan serat alami, pewarnaan alami hasil eksperimen artisanalnya sendiri, serta pengolahan kembali material bekas (reclaimed). Pendekatan ini merupakan bentuk kritiknya terhadap overproduksi dalam industri fast fashion maupun pertanian industrial. Menampilkan 6 looks dengan total 20 pieces, koleksi kelulusan Master ini dapat direproduksi khusus sesuai kebutuhan pemesan.

 Maurine Willebien

 Reinterpretasi Pakaian Intim dan Female Gaze

Desainer knitwear Maurine Willebien menghadirkan koleksi bertajuk Beauties yang mengeksplorasi penceritaan tubuh perempuan secara berani. Lulusan Bachelor di Belgia dan Master di École Duperré Paris berusia 28 tahun ini menantang batas antara pakaian dalam dan pakaian luar. Melalui sudut pandang female gaze, Willebien mentransformasi underwear menjadi busana harian sebagai bentuk penegasan kebebasan dan emansipasi diri perempuan dari penghakiman sosial.

Kreativitas Willebien terinspirasi oleh interaksi harian, figur perempuan terdekat, hingga berbagai referensi budaya yang luas. Mulai dari buku Pour Britney karya Louise Chennevière, film Wild Diamond, korset era 1960an dari pasar loak, hingga lukisan Botticelli. Jalanjalan panjang di Paris memberinya kesempatan untuk mengamati detail sikap, gestur, dan cerita tersembunyi di balik kehidupan manusia yang kemudian dituangkan ke dalam garmen.

Willebien merancang busananya dengan teknik draping langsung di atas manekin demi menciptakan hubungan fisik yang intuitif dengan material. Ia banyak memanfaatkan tali lingerie dan beragam teknik rajut (knitting) yang dikerjakan menggunakan mesin rajut domestik maupun industri. Siluetnya dibuat fleksibel dan lembut mengikuti lekuk tubuh, lengkap dengan permainan volume serta detail pengerjaan strip assembly yang menawan pada sweater maupun blazer.

Koleksi Beauties menunjukkan komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan material dead stock benang dari rumah mode ternama serta tali lingerie bekas (upcycling). Setiap busana menjadi karya oneofakind yang unik. Selain itu, Willebien berkolaborasi menghadirkan tas berbahan dasar Reishi, yaitu material kulit ramah lingkungan buatan berbasis miselium (jamur) sebagai alternatif kulit hewan.

Dalam peragaan busana di JF3 2026 ini, Willebien memamerkan 10 looks lengkap dengan berbagai aksesori pelengkap seperti tights dan tas koleksi eksklusif. Setiap ansambel dirancang secara harmonis untuk menciptakan identitas visual yang kuat, percaya diri, dan berkarakter. Menariknya, seluruh rangkaian karya dalam koleksi Beauties ini tersedia dan dapat langsung dibeli oleh para penikmat mode.

 Paul Vidal

 Dialog Sejarah dan Material Kemasan Modern

Paul Vidal memperkenalkan koleksi bertajuk Emballezmoi (Wrap Me Up) yang menyajikan eksperimen visual unik dan provokatif. Koleksi ini memadukan kemewahan busana bersejarah Eropa abad ke17 hingga ke18 dengan estetika material pelindung kemasan (protective packaging). Vidal menciptakan dialog kontemporer yang mempertemukan nilai warisan klasik dengan bentuk perlindungan modern dalam satu panggung mode.

Inspirasi utama Vidal lahir dari kebiasaannya mengumpulkan fotofoto lukisan klasik abad ke16 hingga ke18 di berbagai museum Eropa. Terpesona oleh karakter eksentrik dalam lukisan tersebut, ia membayangkan bagaimana sosok bersejarah itu membungkus diri mereka di era modern. Volume busana era renaisans dan barok pun diinterpretasikan ulang menggunakan terpal, plastik transparan, dan pita perekat usang.

Koleksi ini menggabungkan teknik tailoring tegas dengan draperi flou yang mengalir dalam siluet oversized. Konstruksi bersejarah dihadirkan kembali melalui detail lipit, kerut, dan lengan bervolume yang diolah secara kontemporer. Efek permukaan tekstil dikembangkan secara teknis menggunakan teknik rekat panas, lapisan transparan, hingga teknik ilusi trompel’œil yang menyerupai lakban tanpa mengurangi fleksibilitas kain.

Berbeda dari tren industri, Paul Vidal secara terbuka menyatakan bahwa koleksi ini tidak difokuskan pada prinsip fesyen berkelanjutan maupun komersialisasi. Emballezmoi merupakan murni proyek kelulusan akademis yang dirancang secara mandiri tanpa keterlibatan tim eksternal. Keenam looks yang ditampilkan di panggung JF3 murni berfungsi sebagai objek ekspresi artistik dan eksplorasi bentuk yang eksperimental.

Share: