Masalah bercak kecokelatan atau abu-abu di wajah yang dikenal sebagai melasma kerap kali menjadi momok bagi penampilan. Ternyata, gangguan hiperpigmentasi yang paling umum di dunia ini tidak menyerang semua orang secara merata. Studi global berskala besar membuktikan bahwa kaum hawa berada di garis depan risiko ini, di mana sebagian besar penderita melasma di seluruh dunia didominasi oleh wanita.
Berdasarkan data penelitian berskala global terhadap lebih dari empat puluh satu ribu pasien melasma, ditemukan fakta mencengangkan bahwa sembilan puluh tiga persen di antaranya adalah perempuan. Angka ini sejalan dengan berbagai riset klinis yang menunjukkan bahwa sekitar delapan puluh hingga sembilan puluh enam persen kasus melasma terjadi pada wanita, khususnya mereka yang berada dalam usia reproduktif atau fase aktif secara hormonal.
Munculnya melasma umumnya dimulai pada rentang usia dua puluh hingga tiga puluh tahun. Kondisi ini kemudian mencapai puncak prevalensi tertingginya pada wanita usia akhir dua puluh hingga awal empat puluh tahun. Menariknya, masalah pigmentasi ini cenderung menurun secara signifikan setelah wanita memasuki masa menopause, mempertegas korelasi kuat antara aktivitas hormon estrogen dengan pembentukan melasma pada kulit.
Bagi masyarakat Indonesia, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan mengingat karakteristik fisik dan kondisi geografis tanah air. Mayoritas penduduk Indonesia memiliki kulit dengan klasifikasi fototipe Fitzpatrick tingkat empat dan lima, yang secara alami memiliki kadar melanin lebih tinggi namun lebih rentan terhadap bercak gelap saat terpapar rangsangan luar secara terus-menerus. Ditambah dengan letak geografis di garis khatulistiwa dengan paparan radiasi ultraviolet tinggi sepanjang tahun, risiko terjadinya melasma menjadi sangat besar.
Kondisi kerentanan fisik ini dibenarkan oleh Margaret Vivi, seorang penyintas melasma yang membagikan kisahnya dalam acara Melasma Awareness Month oleh PT Unison Medika Jaya di Jakarta. Awalnya ia mengira noda di wajahnya hanyalah flek biasa, namun seiring waktu bercak tersebut justru semakin pekat dan sulit memudar. Pengalaman tersebut sempat menurunkan rasa percaya dirinya secara drastis sebelum akhirnya menyadari bahwa melasma membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten dari ahlinya.
Menurut dr. Stanley Setiawan selaku dokter spesialis kulit, langkah krusial dalam menangani kondisi ini adalah memastikan diagnosis yang tepat sebelum menentukan terapi. Beliau menegaskan bahwa tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma karena setiap masalah kulit memiliki penyebab yang berbeda. Pemeriksaan oleh dokter sangat penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai, sementara tindakan pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar justru berisiko merusak lapisan pertahanan kulit dan memperburuk kondisi hiperpigmentasi.





