Panggung peragaan busana BRI JF3 Fashion Festival 2026 sukses dibuat terpukau oleh kolaborasi mode Indonesia Prancis yang spektakuler pada Kamis (23/7). Bertempat di area terbuka Gafoy, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pergelaran ini mempertemukan talenta desainer terbaik dari kedua negara dalam satu catwalk. Mengusung semangat akulturasi budaya dan craftsmanship, pertunjukan ini menjadi saksi bagaimana harmonisasi rancangan busana Nusantara dan Barat mampu memikat perhatian para penikmat lifestyle serta industri mode Tanah Air.

Peragaan busana istimewa ini merupakan buah manis dari PINTU Residency Program, sebuah inisiatif kolaboratif antara Institut Français d’Indonésie (IFI) dan Lakon Indonesia bentukan Thresia Mareta. Lewat residensi ini, para desainer diberi ruang untuk bertukar gagasan, teknik, dan rasa, hingga melahirkan dua koleksi spektakuler: GARUDA dan AU LARGE.

Harmoni Siluet Barat dan Wastra Nusantara dalam Koleksi GARUDA

Ketika desainer Indonesia Beatrice Angelica (pendiri brand NOEN) duduk bersama desainer Prancis Mickael “Marlon” Nana (pendiri MARLON NANA), sebuah visi besar lahir. Mereka mengangkat lambang negara Indonesia, Garuda, sebagai tajuk utama koleksinya. Namun, alih-alih menampilkan simbol secara harfiah, keduanya menerjemahkan keragaman tersebut lewat semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Koleksi ini mengeksplorasi perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan penjahitan Barat. Alih-alih budaya yang bertentangan, GARUDA menunjukkan bagaimana tradisi yang berbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya, menciptakan lemari pakaian kontemporer yang berakar pada rasa hormat, pertukaran, dan inovasi,” ungkap Beatrice mengenai esensi karya mereka.

Foto @ade_oyot

Koleksi GARUDA menyelami foto-foto arsip Indonesia abad ke-19 hingga awal abad ke-20 untuk melihat bagaimana kebiasaan berbusana lokal dan sentuhan pengaruh Eropa sudah lama hidup berdampingan. Hadir dalam 10 look siap pakai untuk wanita dan pria, struktur jaket bergaris bahu tegas khas penjahitan Eropa era 70-an dan 80-an berpadu apik dengan potongan drapery khas Nusantara yang meliuk bebas.

Roh dari koleksi ini makin terasa berkat penggunaan tiga kain tenun tangan eksklusif yang dibuat langsung oleh perajin wanita di Lombok menggunakan teknik Songket dan Tenun berbahan pewarna alami. Sentuhan manis dari komunitas kreatif lokal seperti Lului Studio, Lidya Yuniaty Nainggolan lewat aksesori rantai manik-maniknya, serta kehangatan rajutan dari Zab’a Craft semakin memperkaya tekstur koleksi yang kental akan prinsip sustainable fashion ini.

AU LARGE: Menjelajah Kedalaman Kisah Maritim Dua Negara

Jika GARUDA merayakan pertemuan struktur dan tradisi, maka koleksi AU LARGE mengajak kita berlayar lebih jauh ke tengah lautan. Dirancang oleh perancang busana Prancis Lisa Rayar dan desainer Indonesia Gabriel Marcella (Direktur Kreatif Soedisoei asal Semarang), koleksi ini terinspirasi dari frasa bahasa Prancis yang berarti “di lepas pantai”.

AU LARGE menelusuri benang merah yang menghubungkan kultur pelaut Prancis dengan kehidupan masyarakat pesisir Jawa Utara, khususnya tradisi penghormatan laut Sedekah Laut. Lewat 12 look yang disajikan, Lisa dan Gabriel berhasil mematahkan anggapan bahwa geografis yang jauh menjadi penghalang kreativitas.

“Laut sering dipandang sebagai batas. Melalui AU LARGE, kami ingin menunjukkan bahwa laut juga bisa menjadi tempat pertemuan, di mana keahlian kerajinan, tradisi, dan gestur yang sama menghubungkan orang-orang lintas budaya,” tutur Lisa Rayar.

Foto @ade_oyot

Keanggunan maritim menjelma dalam potongan oversized dan detail drapery yang melambai bagai layar kapal tertiup angin. Tali-temali, konstruksi berlapis serupa jaring ikan, hingga pilihan warna biru transparan dan kilau keemasan menghadirkan nuansa pesisir yang hidup.

Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah motif batik orisinal yang diciptakan khusus untuk koleksi ini. Lewat teknik sablon batik inovatif, motif sarung kotak-kotak Nusantara melebur cantik dengan garis-garis maritim khas Prancis. Tak hanya indah, koleksi ini juga menerapkan prinsip zero-waste dengan memanfaatkan sisa kain menjadi detail busana, serta dijual melalui sistem pre-order untuk mendukung industri mode yang lebih bijaksana.

Malam itu, Indonesia dan Prancis tidak sedang bersaing menunjukkan siapa yang paling menonjol. Di atas catwalk JF3, mereka membuktikan bahwa ketika dua tradisi saling menghormati dan memberi ruang, karya yang lahir tak hanya relevan dengan zaman, tetapi juga memiliki jiwa yang akan terus dikenang.

Share: