Di balik pencapaian besar seseorang, selalu ada cerita-cerita kecil yang sunyi namun sangat membekas di dalam hati. Ketika hadir dalam acara Inspiring Educators 2026 di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memilih untuk menanggalkan gaya pidato birokratis yang kaku. Ia justru membuka ruang perbincangan dengan membagikan kisah masa kecilnya yang sangat membumi kepada ribuan guru dan dosen yang memadati ruangan.
Mu’ti bercerita bagaimana ia dulunya hanyalah seorang anak desa dari Kudus, seorang lulusan Madrasah Aliyah jurusan IPA yang tidak pernah bermimpi muluk-muluk bisa memimpin sebuah kementerian besar. Perjalanan hidupnya hingga sampai di titik ini tidak diraih dengan instan, melainkan ditempa oleh doa orang tua dan rasa hormat yang mendalam kepada para gurunya. Dari situlah ia belajar bahwa hidup adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan ketulusan dan kesabaran luar biasa.

Dalam pandangannya, seorang pendidik atau figur hebat sejati tidak lahir dari ruang-ruang kelas yang penuh dengan doktrin kaku. Guru yang hebat selalu berangkat dari tiga pilar utama, yaitu cinta yang tulus kepada murid dan ilmu, keinginan untuk mendidik dengan cara menginspirasi, serta kemampuan untuk memanusiakan manusia. Bagi Mu’ti, mengajar adalah sebuah misi profetik yang bertugas mengubah ketidaktahuan menjadi terang pemahaman.
Sisi humanis dari acara tersebut semakin terasa hidup ketika Komisaris ParagonCorp, Salman Subakat, naik ke atas panggung untuk membagikan kenangan masa lalunya. Salman mengenang momen hampir tiga puluh tahun silam ketika guru Fisika SMA-nya dengan berani menuliskan angka 10 di rapor sekolahnya. Angka sempurna yang sangat langka diberikan saat itu karena para guru khawatir siswanya akan tumbuh menjadi anak yang sombong.

Kepercayaan kecil yang dititipkan melalui angka 10 tersebut ternyata membekas begitu kuat dalam jiwa Salman hingga hari dewasa. Pesan tersirat dari sang guru bahwa “saya percaya kamu mampu” menjadi bahan bakar mental yang membawanya berani menghadapi berbagai tantangan hidup hingga mendirikan dan mengelola berbagai program inspiratif. Ini membuktikan bahwa dampak dari sebuah apresiasi tulus bisa bertahan melintasi dekade.
Kisah-kisah ini seolah memberikan refleksi mendalam bagi kita semua di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan instan. Di era di mana kecerdasan buatan dan teknologi canggih bisa menyediakan informasi apa saja dalam hitungan detik, sentuhan manusia tetap tidak akan pernah tergantikan. Peran seorang pembimbing atau figur yang inspiratif jauh lebih dibutuhkan untuk membentuk karakter, keberanian, dan daya juang seseorang.
Pada akhirnya, apa yang disampaikan oleh Abdul Mu’ti dan Salman Subakat mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai setiap proses kecil dalam kehidupan. Baik itu lewat kebiasaan harian, cara kita memperlakukan orang lain, maupun kenangan manis tentang seseorang yang pernah percaya pada potensi kita.
Hidup ini pada dasarnya adalah tentang bagaimana kita meninggalkan jejak kebaikan dan menginspirasi orang-orang di sekitar kita untuk berani bermimpi lebih tinggi. Karena terkadang, satu kata penyemangat atau satu momen apresiasi di masa lalu adalah kunci yang membuka pintu gerbang masa depan yang gemilang.





