Tanpa hari libur dan harus menghadapi 5 tantangan ekstrem dalam 14 hari, begini cara juri JF3 menguji mental serta fisik para calon desainer masa depan di FFD 2026.

Di balik gemerlapnya lampu runway, riuh tepuk tangan penonton, dan indahnya busana yang diperagakan para model papan atas, terdapat sebuah proses kurasi dan perjuangan yang luar biasa berat. Sisi emosional dan melelahkan inilah yang tergambar jelas sepanjang berlangsungnya program Future Fashion Designer (FFD) 2026, sebuah inisiatif progresif dari JF3 bersama Susan Budihardjo Fashion Forward Institute.

Selama 14 hari penuh tanpa jeda libur (12–26 Mei 2026), delapan desainer muda terpilih diisolasi dalam sebuah simulasi industri retail yang super intensif. Mereka dituntut menyelesaikan total lima koleksi busana berdasarkan lima brief tantangan yang berkarakter sangat kontras. Bekerja di bawah tekanan waktu yang ekstrem tanpa bantuan tim besar, air mata, stres, dan kelelahan fisik pun menjadi makanan sehari-hari para peserta.

Pendidik mode sekaligus desainer senior, Susan Budihardjo, mengaku sangat terkejut sekaligus bangga dengan daya tahan mental para peserta tahun ini. Bagaimana tidak, dalam waktu yang sangat singkat, rata-rata hanya dua hari per tantangan, peserta harus melakukan riset konsep mandiri, berburu bahan di pasar, membuat pola, menjahit, hingga melakukan fashion styling dan presentasi di depan juri.

“Dalam waktu cuma 2 hari, peserta harus mikir konsep, cari bahan, bikin pola, jahit, sampai presentasi. Mental dan skill benar-benar diuji. Keterbatasan modal juga diputarbalikkan menjadi ruang inovasi. Di beberapa tantangan, peserta hanya dibekali budget Rp500.000 per look. Ini membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu bergantung pada modal yang besar. Pantas kalau ada yang stres atau menangis. Perjuangan di balik hasil akhirnya ternyata luar biasa,” cerita Susan Budihardjo emosional.

Menariknya lagi, fungsi mentor dan juri dalam program ini sengaja diatur bukan untuk mendikte atau mengarahkan karya, melainkan untuk memberikan sudut pandang industri profesional. Keputusan final eksekusi sepenuhnya dikembalikan ke tangan peserta. Mengingat masukan besar dari juri seringkali datang hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu (deadline), para desainer muda ini dipaksa berpikir taktis dan berani mengambil keputusan cepat.

Tantangan fisik dan mental ini dinilai langsung oleh 12 raksasa industri fashion Indonesia, di antaranya Hian Tjen, Caren Delano, Didi Budiardjo, hingga maestro desainer aksesori legendaris, A. Rinaldy A. Yunardi. Bagi Rinaldy, FFD 2026 bukan lagi sekadar ajang mencari bakat mentah, melainkan tempat krusial untuk menemukan dan mempertajam identitas desain personal yang otentik.

Melalui jam terbangnya selama puluhan tahun, Rinaldy mengaku bisa langsung membaca karakter asli seorang desainer hanya dengan melihat goresan karya mereka, bahkan ketika peserta itu sendiri belum menyadarinya. “Karya yang baik bukan hanya soal kesempurnaan teknik jahit, tetapi juga soal identitas, karakter kuat, dan pesan mendalam yang ingin disampaikan dengan kejujuran serta rasa cinta yang besar pada Indonesia,” tutur Rinaldy hangat.

Bagi pembaca yang penasaran dengan seluruh drama kerja keras, air mata, dan proses transformasi luar biasa dari kelima finalis, Arron Bryan, Agatha Lievia, Azzahra Najmanisa, Nabila Karimah, dan Tashannie Abigail Loekman. Seluruh dokumentasi eksklusif di balik layar ini dapat disaksikan secara lengkap melalui kanal YouTube resmi @JF3Official.

Foto-foto: dok. FFD 2026

Share: